Hidrofuel

Kamis, 14 Feb 2008
Dari Soft Launching Bahan Bakar Air Hidrofuel Banyugeni di UMY

Wah…Menakjubkan, seperti Bahan Bakar Minyak
Terus melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) membuat berbagai kalangan mulai mengembangkan energi alternatif. Salah satunya dilakukan para ilmuwan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kemarin, UMY menggelar soft launching BBM yang berbahan dasar air. Produk hidrofuel ini diberi nama Banyugeni.

SYUKRON M, Bantul

Tepuk tangan bergemuruh di halaman Gedung Ahmad Dahlan, komplek Kampus Terpadu UMY saat sepeda motor Suzuki Smash AB 5520 GI menyala. Sejurus kemudian, tangan Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori langsung menggeber gas kendaaran roda ini. Lambat laun, suara mesin semakin keras dan stabil. Bupati Bantul Idham Samawi pun didaulat menaiki kendaraan itu. Bersama Khoiruddin, Idham pun naik motor ini mengitari halaman kampus.

Begitulah suasana soft launching Banyugeni. Bukan hanya sepeda motor, produk hidrofuel ini juga diujicobakan di berbagai media. Seperti lampu minyak, kompor, traktor dan aeromodeling. “Wah, menakjubkan. Seperti bahan bakar minyak,” ujar Idham di sela-sela soft launching.

Ya, hidrofuel Banyugeni adalah temuan dari lima peneliti UMY. Yakni Drs Purwanto, Ir Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir Tony K. Haryadi MT, Ir Lilik Utari MS dan Dra Nike Triwahyuningsih MP. Ada empat macam produk berbahan dasar air yang dihasilkan kelima peneliti.

Hidrofuel hasil penelitian UMY yang telah dipatenkan ini terdiri atas beberapa varian produk. Yakni hidrokerosene atau setara dengan minyak tanah, hidrodiesel (solar), hidropremium (bensin), dan hidroavtur (bahan bakar jet). Sama seperti yang dilakukan pada sepeda motor, percobaan pada tiga varian lainnya juga berhasil dengan sempurna. “Bau dan warna bisa disesuaikan dengan keinginan kita,” kata Khoiruddin.

Purwanto mewakili tim peneliti menjelaskan, penelitian produk hidrofuel ini dilakukan sejak 2003. Latar belakang penelitian karena semakin tingginya harga minyak mentah di pasaran dunia.

“Subsidi pemerintah untuk BBM tahun 2007 sudah mencapai Rp 50,64 triliun. Sungguh beban amat berat bagi pemerintah yang sekarang ini terus mengalami defisit anggaran. Bahan bakar dari minyak bumi dan batu bara semakin sulit diperoleh, padahal konsumsinya terus meningkat,” ujar Purwanto.

Ia mengungkapkan, untuk menjadikan air menjadi bahan bakar diperlukan empat perlakukan yang disebut teknologi mekanotermal- elektrokemis. Proses ini melalui empat tahapan. Yakni, mekanik (gerak), thermal (panas), listrik dan kimiawi. “Pengertian kimia dalam proses ini adalah memberikan bahan lain yang bisa menjadikan air bisa menyala. Nah hal ini yang saya tidak bisa matur,” tuturnya.

Ia menjelaskan, untuk bisa terbakar ada beberapa proses kimia yang harus dilalui. Secara kajian ilmiah, air terdiri atas beberapa molekul yang bisa terbakar. Yaitu molekul atom H2O. Unsur ini bisa dipisahkan secara kimiawi, sehinga menjadi molekul 2H2 + O2. “Nah unsur hidrogen inilah yang bisa menyala. Bahkan bisa meledak. Selain itu, unsur oksigen (O2) juga merupakan molekul yang sangat berpengaruh dalam pembakaran. Jadi pada hakekatnya air adalah api,” urainya.

Hanya Purwanto tidak bersedia menjelaskan secara detail berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mengubah air menjadi bahan bakar. Menurutnya, jika diproduksi secara masal, anggaran yang dikeluarkan bisa ditekan sedemikian kecil. “Karena pada prinsipnya yang digunakan adalah air yang jumlahnya tidak terbatas. Bukan seperti fosil,” jelasnya.

Khoiruddin menuturkan, selain sebagai bahan baku alternatif, keunggulan hidrofuel ini juga ramah lingkungan. Pada percobaan yang dilakukan di PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen, produk ini telah memenuhi standar Dirjen Migas. Antara lain, tidak korosif atau tidak menyebabkan karat, tidak meninggalkan residu dan kandungan sulfur dan timbal yang dihasilkan lebih rendah dari yang diperbolehkan.

Sedang Idham Samawi mengaku bangga dengan hasil penelitian ini. Ia menegaskan, Pemkab Bantul siap mengalokasikan anggaran untuk pengembangan penelitian ini. “Bahkan seharusnya bukan hanya APBD, tapi APBN juga layak untuk membiayai penelitian,” tandasnya. ***

2 Responses

  1. Biaya produknya mahal ga yah?????

  2. hmm…masih belum masuk logika,
    bagaimana kalau di jelaskan lebih gamblang????
    yang mengganjal di pikiran saya adalah : H2O=air, jika diperlakukan dengan metode tertentu memang akan menghasilkan panas, tapi juga pada panas tertentu (100 C),jenuh, bukankah akan menjadi uap dan dengan perubahan suhu dsedikit akan berubah kembali menjadi cair????

Comments are closed.

%d bloggers like this: